Tuesday, April 1, 2014

SEMINAR WIRAUSAHA DI FAK EKONOMI & BISNIS UNIVERSITAS PANCASILA

Bambang Suharno, Hamzah Izzulhaq dan moderator
Bertempat di Ruang Seminar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Pancasila (UP), Selasa 1 April 2014 berlangsung talkshow dengan tema “Menanamkan Jiwa Entrepreunership untuk dapat bersaing dimasa yang akan datang “. Seminar yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Jurusan Manajemen (Himajuma) ini menghadirkan Direktur Indonesian Entrepreneur Society (IES) Bambang Suharno dan pengusaha muda berusia 20 tahun Hamzah Izulhaq.

Seminar dibuka oleh Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan dan Alumni Fak Ekonomi dan Bisnis  Drs. Coroto Mukri MM dilanjutkan dengan pemaparan materi oleh Hamzah Izzulhaq dan Bambang Suharno dan kemudian tanya jawab interaktif.

Hamzah menyampaikan pengalaman bisnisnya sejak SD hingga SMA. Ia memilih untuk menunda kuliah selepas SMA karena ingin fokus dulu dalam berbisnis. Sejumlah pengalaman bisnis yang ia lakukan mulai dari berjualan pulsa, ayam goreng, lembaga bimbel dan sebagainya menjadi pelajaran berharga bagi peserta talkshow yang jumlahnya lebih dari 100 orang mahasiswa. Ia memaparkan tentang bagaimana mendapatkan modal untuk memulai usaha. Juga tentang pengalaman bangkrut dan bangkit dari keterpurukan.

Sementara itu Bambang Suharno menguraikan tentang trilogi mental entrepreneur, dengan diawali menyetel video office boy entrepreneur yang pernah ditayangkan SCTV. Tayangan video inilah yang menjadi pelajaran mengenai sikap mental untuk menjadi wirausaha.

Menanggapi pertanyaan peserta tentang cara menghadapi persaingan, Bambang menyampaikan bahwa untuk memenangkan persaingan,  cara yang pertama harus menjadi pelopor. Contohnya teh Botol Sosro, Aqua dan lain-lain. Jika tidak mampu menjadi pelopor, ada cara yang kedua, yaitu "jadilah yang terbaik". Perusahaan Jepang sebagian besar sukses menjadi peniru. Mereka berhasil meniru pembuatan mobil, arloji, komputer dan sebagainya dan berhasil menjadi yang terbaik, hingga mampu menguasai pasar global.

Namun jika menjadi yang terbaik juga tidak bisa, maka ada cara terakhir yaitu menjadi yang berbeda. Banyak produk yang sukses bukan karena pelopor maupun yang terbaik, tapi karena berbeda, baik beda secara konten (isi) maupun konteksnya. Bambang mencontohkan, sebuah perusahaan Bir pernah mengundang ahli marketing untuk menyusun kalimat promosi yang bagus. Para ahli marketing itu mencermati sistem produksi Bir, hingga akhirnya mereka memutuskan kalimat promosinya : Bir ini dibuat melalui 10 proses pembuatan mulai dari...... sampai....

Bagian produksi Bir mengatakan, "buat apa menyusun kalimat seperti itu, kan semua bir juga dibuat dengan cara itu?"
Pakar marketing itu mengatakan,"perusahaan lain tidak menyampaikannya, jadi kitalah yang pertama menyampaikannya".
Dan selanjutnya perusahaan bir itulah yang sukses memenangkan persaingan.

Jadi seolah-olah pabrik bir ini saja yang melakukan proses produksi yang cukup rumit. "Itulah contoh bagaimana membuat deferensiasi dari segi konteks," kata Bambang.

Seminar ditutup dengan pembagian doorprize untuk penanya terbaik dan pemberian plakat untuk narasumber. Buku karya Bambang Suharno ikut sebagai doorprize untuk penanya.
***

No comments:

Post a Comment