Previous
Next

Iklan

Saturday, May 19, 2018

Formula "3K" Untuk Karyawan Intrapreneur (Ubaydillah Anwar)

Formula "3K" Untuk Karyawan Intrapreneur (Ubaydillah Anwar)

Dalam beberapa forum, banyak orang yang menanyakan ke saya  seputar modal prinsip untuk berprestasi di dunia kerja yang makin ketat dengan persaingan seperti sekarang ini. Apakah cukup dengan nilai ijazah yang tinggi dan sertifikat kursus? Tentunya tidak. Dunia kerja sekarang dan ke depan adalah dunia "intrapreneurship" , yakni mental inovasi kewirausahaan (entrepreneurship) untuk mengembangkan perusahaan. Orang-orang yang berhasil di dunia kerja bukanlah yang sekedar disiplin jam kerja melainkan memiliki beberapa keunggulan lain, misalnya mampu mengakses peluang, punya mental pantang menyerah dan sebagainya. 

Untuk  “menyederhanakan” penjelasan, saya kerap menggunakan istilah 3 K. Berikut uraiannya.

K Pertama adalah Keahlian

Keahlian di sini maksudnya adalah kemampuan kita dalam menerapkan pengetahuan, menggunakan  informasi, dan pengalaman dalam bekerja dan terbukti bisa memperbaiki kinerja. Kalau kita hanya tahu, itu belum  ahli. Kalau kita hanya pernah mengalami, itu juga belum ahli. Keahlian yang perlu kita tingkatkan adalah  keahlian mental (mental skill) dan keahlian kerja (job skill). Orang-orang yang memiliki emploibilitas tinggi  itu selalu memiliki dua hal kembar, yaitu will power  (kemauan, komitmen, dll) yang kuat dan skill power  (keahlian, pengetahuan, pengalaman, dst) yang bagus.

K Kedua adalah Kesalehan

Kesalehan di sini adalah akhlak moral yang didasarkan pada nilai-nilai kebenaran. Jika keahlian  berfungsi untuk meningkatkan emploibilitas, maka kesalehan berfungsi untuk menjaga langkah kita supaya tetap aman. Jika kita hanya ahli, karir kita memang naik, namun rawan jatuh. Sebaliknya, jika akhlak moral kita saja  yang bagus, karir kita hanya aman, namun tidak naik. Supaya naik dan aman, perlu keahlian dan kesalehan.

K  Ketiga adalah  Komunikasi 

Komunikasi di sini adalah berbagai aktivitas yang kita lakukan untuk menjalin interaksi atau  relasi dengan orang lain. Biarpun  keahlian kita bagus, kesalehan kita bagus, namun kalau jaringan kita sempit,  apa mungkin emploibilitas kita meningkat ? Berbagai studi membuktikan, kemajuan karir seseorang itu sangat erat  dengan kemampuannya dalam menjalin interaksi, relasi, atau sinergi. Di negara yang sudah se-high-tech seperti  Amerika saja, sebagian besar pekerja mendapatkan peluangnya dari manusia (relasi, interaksi, referensi), bukan  dari media atau tehnologi.

Hemat saya, ke-3K di atas adalah salah satu cara yang bisa kita tempuh untuk meningkatkan emploibilitas. Apa  itu emploibilitas? Kalau dilihat di beberapa kajian pengembangan karir, emploibilitas adalah kemampuan  seseorang untuk mengakses berbagai peluang emploimen yang terus bertambah dan menawarkan pilihan yang tak  terbatas. Kita beranggapan ini penting atau tidak, tetapi bagi kemajuan karir kita tetaplah penting. 

Kenapa? Pada prakteknya, kemajuan karir seseorang itu tidak ditentukan oleh peluang emploimen semata, namun  oleh kemampuannya dalam mengakses peluang itu. Peluang yang berlimpah tidak otomatik menghasilkam kemakmuran  berlimpah apabila kemampuannya krisis. Bahkan kata para motivator, peluang itu tidak pernah krisis. Yang selalu  mengalami krisis adalah ide dan kemampuan.

Alasan lainnya terkait dengan tren emploimen ke depan. Menurut catatan Phillip S. Jarvis (2002), ke depan akan  muncul sejumlah paradigma kerja yang menggantikan paradigma lama. Paradigma kerja ini saya sebut sebagai paradigma Intrapreneurship Garis besarnya dijelaskan seperti di bawah ini:

1. Definisi pekerjaan. Ke depan, pekerjaan seseorang itu akan didefinisikan berdasarkan skill dan value yang  dimiliki, bukan didasarkan pada kedudukan, jabatan atau kategori.

2. Lokasi / Tempat Kerja. Ke depan, orang tidak mutlak membutuhkan ”kantor fisik” untuk menjalankan  pekerjaan / profesinya. Virtual space akan menjadi tren juga. 

3. Tolak Ukur Kesuksesan Karir. Sementara ini, tolak ukur yang kerap dipakai adalah kenaikan jabatan. Ke  depan, tolak ukur yang akan jadi tren adalah kenaikan skill atau value yang kita miliki. Kenaikan jabatan tidak  menjadi ukuran mutlak kesuksesan karir seseorang.

4. Kontrak & Fee. Ke depan, tren yang akan muncul adalah sistem emploimen yang didasarkan pada kontrak, kesepakatan dan pembayaran fee, bukan semata-mata harus ada gaji bulanan, bonus bulanan, atau menjadi karyawan tetap dengan jam masuk-keluar yang tetap.

5. Orientasi Kerja. Ke depan, tren yang akan muncul adalah personal freedom and control (career security).  Sementara ini, trennya memang adalah kebergantungan yang terlalu besar pada pekerjaan atau perusahaan.

6. Loyalitas. Ke depan, tren yang akan muncul adalah loyalitas pada profesi atau pekerjaan, bukan pada perusahaan, kantor atau organisasi 

7. Identitas. Ke depan, identitas seseorang itu akan terkait dengan kontribusi yang sanggup diberikan pada  pekerjaan / profesi, keluarga, masyarakat, klien atau pelanggan. Sementara ini, identitas itu terkait dengan kontribusi seseorang pada job, posisi, okupasi, atasan, atau bos.

8. Hubungan Kerja. Yang akan jadi tren juga adalah hubungan kerja itu bisa berbentuk tim, mitra usaha atau  vendor. Sementara ini, yang banyak jadi tren adalah hubungan dalam bentuk atasan-bawahan atau pimpinan-karyawan.

Kalau kita perhatikan, sebagian tren yang ditulis di atas sudah terjadi di kita. Banyak perusahaan yang sudah  menerapkan sistem kontrak. Banyak orang yang hanya terikat oleh hubungan agreement dengan perusahaan, bukan employment. Banyak yang sudah menulis posisi atau peranan di kartu namanya dengan istilah yang belum pernah ada  dikodifikasi jabatan nasional. Banyak yang berkantor tanpa gedung. ***

Dikutip dari buku Interpersonal Skill karya Ubaydillah Anwar dengan beberapa modifikasi.
Editor : Bambang Suharno

Ubaydillah Anwar, Human Learning Specialist

Friday, May 4, 2018

Mengukur Kemampuan Interpersonal

Mengukur Kemampuan Interpersonal


”Orang bawah berbicara tentang orang lain, orang menengah berbicara tentang peristiwa dan orang atas berbicara tentang gagasan.” (Pepatah)

Mengacu pada definisi yang dibuat oleh Tim Microsoft Education, Interpersonal skill itu mencakup beberapa kemampuan di bawah ini:
  • Kemampuan seseorang dalam menghangatkan hubungan
  • Kemampuan seseorang dalam membuat pendekatan yang mudah
  • Kemampuan seseorang dalam membangun hubungan secara konstruktif
  • Kemampuan seseorang dalam menggunakan diplomasi dan tehnik untuk mencairkan situasi yang sedang tegang
  • Kemampuan seseorang dalam menggunakan gaya yang dapat menghentikan permusuhan yang merusak sebuah hubungan 

Dalam prakteknya, mungkin seluruh kemampuan di atas tidak langsung menyatu pada diri seseorang atau dimiliki secara keseluruhan. Saya kerap menjumpai  seseorang yang punya kemampuan bagus dalam membuka dan menghangatkan hubungan, tetapi tidak bisa mempertahankan. Ketika bertemu pertama kali kesannya bagus, tetapi hubungannya tidak tahan lama. Ada lagi yang saya jumpai misalnya ada orang yang kayak-kayanya itu sulit membuka dan menghangatkan hubungan. Tetapi ternyata orang ini punya kemampuan yang bagus dalam mempertahankannya. Ada yang tidak bisa membuka dan tidak bisa mempertahankan. Ada yang sanggup membuka dengan bagus dan bisa pula mempertahankannya. Ini semua tergantung bagaimana seseorang itu meningkatkan kemampuannya.

Dalam teori kecerdasan, keahlian Interpersonal itu diartikan sebagai bentuk kemampuan dalam membaca perasaan, dorongan, dan keinginan orang lain, baik yang terucapkan atau yang tak terucapkan, dan bertindak atas dasar pengetahuan (bacaan) itu. Jadi, keahlian ini memiliki dua unsur penting, yaitu: peduli atau perhatian pada orang lain yang kemudian diikuti oleh dorongan untuk melakukan sesuatu pada orang lain (concern and action).

Thomas F. Mader dan Diane C. Mader (1990), membedakan antara Impersonal dan Interpersonal Communication. Komunikasi Impersonal itu ketika masing-masing kita saling memahami namun sebetulnya tidak ada keterlibatan emosi secara pribadi. Misalnya saja kita di jalan raya. Ada orang yang meminta jalan ke kita dengan menyalakan lampu kendaraannya. Kita kemudian berhenti untuk mempersilahkan orang itu berjalan. Misalnya lagi ada orang yang berteriak ”maling-maling” di dekat rumah kita. Kita tidak kenal siapa dia. Tapi teriakannya itu mendorong kita untuk keluar rumah supaya bisa memberikan bantuan kepadanya. Ini disebut Impersonal.

Lalu bagaimana dengan Interpersonal Communication? Menurut kedua pakar ini, Interpersonal punya kualitas kedekatan yang lebih tinggi dari Impersonal. Interpersonal adalah komunikasi antara dua orang atau lebih dimana masing-masing punya keterlibatan emosi personal, komitmen dalam menjalani hubungan itu. Kita bisa melihatnya pada hubungan guru-murid, orangtua-anak, mitra bisnis, dan lain-lain. Jadi, Interpersonal itu adalah involvement with (ada keterlibatan) and commitment to (ada komitmen).

Interpersonal skill adalah kemampuan seseorang dalam menjalin hubungan dengan manusia atau orang lain.  Dalam teori kompetensi (Competence At Work, 1993), keahlian Interpersonal ini diartikan sebagai keinginan untuk memahami orang lain. Bisa juga diartikan sebagai kemampuan dalam menyimak secara akurat atau kemampuan dalam memahami muatan perasaan dan pikiran yang tak terucapkan melalui mulut orang lain secara objektif. Orang lain di sini bisa berbentuk individu atau kelompok.Kemampuan ini, menurut Peter Drucker, sangatlah penting. Katanya begini:

Mengukur Kemampuan Interpersonal

Untuk mengukur sejauhmana kemampuan Interpersonal yang Anda miliki, di bawah ini ada sejumlah penjelasan yang dapat kita jadikan sebagai acuan:

NO
LEVEL
DESKRIPSI
01
Rendah
Anda baru bisa berteman dengan orang lain, baru bisa menyenangkan orang lain, atau baru bisa bercakap-cakap dengan orang lain.
02
Menengah
Anda sudah sanggup membangun hubungan secara konstruktif berdasarkan bidang, punya hubungan yang bertahan lama,  dan bisa menempatkan orang di tempatnya yang layak
03
Atas
Anda sudah bisa memberikan toleransi, bisa membangun diplomasi, bisa mencairkan ketegangan, bisa menebar kedamaian, dan bisa memperlakukan orang secara sabar dan penuh hormat
04
Tinggi / Ahli
Anda sudah sanggup membangun hubungan dengan bagus, bisa mengatasi konflik secara positif, dan bisa menangani ”orang sulit” (trouble maker) secara efektif dan efisien.
05
Catatan:
Orang yang sulit adalah orang yang selalu mengkritik, selalu mendebat, selalu ingin menguasai, selalu ingin menang sendiri, selalu ingin ikut campur, selalu protes, dan seterusnya
 Kalau melihat sejarah para nabi, beliau-beliau itu memiliki keahlian Interpersonal yang sangat bagus. Beliau-beliau itu tidak saja sanggup menarik dukungan dari orang-orang yang pro saja, melainkan juga bisa membalik asumsi orang-orang yang kontra lalu menjadi pro. Memang, sesuai hukum dunia, beliau-beliau itu pada akhirnya tetap memiliki pendukung dan tetap memiliki musuh.

Bukan hanya para nabi.  Menurut studi yang pernah dilakukan Phillip Humbret (1996), ternyata hampir semua pemimpin (orang yang punya pengikut) di dunia ini punya keahlian Interpersonal yang bagus. Salah satu buktinya adalah kemampuan mereka dalam menjaga hubungan yang cukup lama dengan kenalannya, sahabatnya, mitranya, dan lain-lain. Bahkan di antara mereka ada yang punya hubungan berlanjut sampai ke anak cucu. Ini bukti bahwa mereka punya keahlian Interpersonal yang bagus.

Ternyata bukan hanya pemimpin saja. Orang-orang yang prestasinya bagus di bidangnya juga rata-rata punya keahlian ini dengan bagus. Mereka bisa menciptakan bukti-bukti yang mendukung terjalinnya hubungan dengan bagus. Misalnya saja mereka menjaga kesepakatan, menjaga perasaan, menghormati orang lain, bisa menempatkan orang lain di tempatnya yang bagus, bahkan menggunakan panggilan-panggilan yang menghormati orang lain.
Menurut hasil telaahnya Abraham Maslow (1968), seperti yang dikutip dalam buku Journey of Adulthood (1996), sebagian ciri orang-orang yang telah atau sedang mengaktualisasikan dirinya (potensinya) itu adalah: deep loving relationship (hubungan yang mendalam),  punya privasi tetapi tidak angkuh, dan punya humor tinggi. Biasanya, humor yang mereka miliki adalah humor-humor yang mengandung pelajaran, bukan humor murahan atau gosip.

Dikutip dari buku INTERPERSONAL SKILL karya Ubaydilah Anwar




Tuesday, May 1, 2018

Sukses Matic dan Manual (Bambang Suharno)

Sukses Matic dan Manual (Bambang Suharno)

Beberapa tahun lalu, saya menghadiri presentasi seorang kawan yang saya nilai sukses sebagai pebisnis dalam sebuah acara seminar. Kawan saya ini mendirikan lembaga kursus bahasa Inggris di berbagai daerah. Istrinya ikut aktif, berperan sebagai direktur keuangan. Awalnya hanya kursus bahasa Inggris, kemudian berkembang menjadi lembaga pelatihan manajemen, konsultan dan beberapa kegiatan lainnya.

Yang menarik dari kisah sukses yang ia ceritakan di forum adalah tentang kesibukan nya sebagai pengusaha.

" Hari ini saya di sini, nanti langsung ke Jogja, besok ke Surabaya. Saya terbiasa sibuk. Ketemu dengan istri harus janjian. Kadang ketemu sebentar di bandara atau stasiun, ngobrol dan pisah lagi karena kesibukan kami masing-masing," ujarnya sambil menunjukkan kebanggaan sebagai CEO sukses.

Seketika itu saya merenung, sebenarnya buat apa ia melakukan kegiatan begitu padat kalau akhirnya ia terjerat pada kesibukan yang ia ciptakan sendiri.

Sementara saya melihat beberapa orang yang sama suksesnya tapi hidupnya tidak perlu sesibuk CEO tadi. Mereka bisa hadir dalam kegiatan reuni sekolah, sering hadir di Kopdar group Medsos, menjadi panitia pembangunan mesjid, menjadi komite sekolah, ikut pengajian di mesjid serta kegiatan sosial lainnya.

Kesibukan sebatas apa yang diperbolehkan atau diperlukan untuk mendapatkan predikat sukses di masyarakat modern (dan juga di akhirat kelak) ? Kerja keras macam apa yang harus  kita lakukan? Bagaimana agar agar ekonomi keluarga tetap tumbuh tapi kesibukan berkurang?

Pertanyaan pertanyaan ini berkecamuk demi melihat begitu hebat kesibukan kawan saya yang sukses itu.

Saya jadi teringat tentang mobil matic dan manual. Jika saya menyetir mobil manual, maka tangan dan kaki saya akan "sibuk" menjadi supir hingga sampai tujuan. Sementara jika mobil saya matic, energi yang saya keluarkan lebih hemat tapi sampai di tujuan dengan waktu yang sama.

Kata teman saya yang paham mobil, pada mobil matic, perpindahan rasio transmisi dikerjakan oleh sistem robotik dengan memperhitungkan berbagai parameter. diantaranya, putaran mesin, pijakan pedal gas, kecepatan, dan parameter yang lainnya. Jadi, pengemudi tidak lagi diributkan dengan takometer, speedometer, pedal kopling dan 4 hingga 6 tingkat percepatan saat melaju di jalanan. Pengemudi hanya perlu memindahkan tuas transmisi pada posisi ‘D’ dan injak pedal gas sejak mobil berhenti hingga kecepatan maksimal dari mobil tersebut.

Sementara itu pada mobil manual, rasio perbandingan putaran antara mesin dan roda diatur oleh barisan roda gigi yang memiliki rasio berbeda-beda didalam sebuah box transmisi. Dari dalam transmisi tersebut, terdapat tuas yang biasa anda gerakkan ketika anda ingin menambah gigi untuk mendapatkan rasio yang lebih berat saat berakselerasi. Tuas tersebut mengatur pasangan roda gigi mana yang digunakan pada tiap-tiap tingkat percepatan yang dipilih oleh pengemudi. Jadi pengemudi harus berkonsentrasi pada putaran mesin dan memindahkan gigi transmisi disaat yang tepat untuk melakukan akselerasi mulai berhenti hingga kecepatan yang diinginkan. Itulah perbedaan mendasar pada mobil manual dan mobil matic.

Intinya, bagi pengemudi mobil matic tidak membutuhkan energi dibandingkan dengan mobil manual. Jika anda menyetir mobil menuju suatu tempat dan mengalami macet, maka mobil matic akan lebih ringan anda bawa dibanding mobil manual.

Demikian halnya dengan bagaimana kita membawa diri menuju kesuksesan. Bayangkan Anda mengendari kendaraan tua, manual, tidak pakai AC. Jalanan macet. Sungguh tidak nyaman. Perjalanan menuju sukses benar-benar melelahkan.

Kini anda perlu memikirkan kendaraan matic full AC, dalam keadaan mesin prima, Niscaya anda lebih mudah sampai ke tempat tujuan.

Bagaimana caranya?

Hmmmmm, ini yang sedang saya pikirkan. Menulis buku tentang SUKSES MATIC, Meraih Sukses dengan Sistem Otomatis





Friday, April 27, 2018

Makna Intrapreneurship sebagai Kewirausahaan Eksekutif

Makna Intrapreneurship sebagai Kewirausahaan Eksekutif


Akhir-akhir ini makin populer istilah intrapreneur yang selalu disandingkan dengan istilah entrepreneur (kewirausahaan). Sejak tahun 2000 istilah entrepreneur alias kewirausahaan makin populer karena pasca krisis ekonomi tahun 1998 kondisi ekonomi nasional dan dunia makin sulit diprediksi. Pada saat yang bersamaan, bekerja di perusahaan makin tidak aman karena sewaktu-waktu bisa diPHK. Bahkan pada saat itu perusahaan BUMN sekelas PT Dirgantara Indonesia yang menjadi andalan Indonesia, harus memPHK karyawannya.

Lantas bermunculan pengusaha-pengusaha baru yang sebelumnya adalah karyawan perusahaan. Berbagai seminar dan training entrepreneurship (kewirausahaan ) digelar dimana-mana untuk memacu keberanian karyawan untuk mendirikan usaha sendiri dan segera pensiun dini dari perusahaan.

Adapula yang tetap jadi karyawan namun punya usaha atau investasi untuk masa pensiun kelak.

Belakangan ini berkembang pula para eksekutif perusahaan yang membangun divisi baru atau unit baru atau mengembangkan cabang baru yang sukses dan disertai bonus dan penghasilan yang cukup menggiurkan. Mereka ini lebih berorientasi berkarya sebaik-baiknya tanpa memikirkan untuk memiliki perusahaan sendiri. Sebagian dari mereka kemudian diberi saham oleh induk perusahaannya ketika membangun usaha baru dalam satu group.

Nah eksekutif ini adalah kategori intrapreneur, yang merupakan singkatan Intaorganization entrepreneur. 

Pengertian Intrapreneurship

Intrapreneurship adalah kewirausahaan (entrepreneurship) dalam perusahaan (enterprenership inside of the organization) atau bisa dikatakan , intrapreneurship adalah entrepreneuship yang ada di dalam perusahaan. 

Konsep intrapreneurship pertama muncul pada tahun 1973 oleh Susbauer dalam tulisannya yang berjudul “Intracoporate Enterpreneurship : Programs in American Industry”, dan kemudian dipopulerkan oleh Pinchott (1985) dan Burgelman (2007) dalam disertasinya.

Princhott (1985) mendefinisikan seorang intrapreneur sebagai seorang yang memfokuskan pada inovasi dan kreativitas, yang mentransformasi suatu gagasan baru menjadi usaha yang menguntungkan yang dioperasikannya dalam lingkup lingkungan perusahaan. 

Asef Karimi, dkk (2011) menyebutkan bahwa Intrapreneurship berakar pada kewirausahaan (Amo dan Kolvereid, 2005; Antoncic, 2001; Davis, 1999; Honig, 2001), ada beberapa perbedaan antara intrapreneurship dan kewirausahaan. 

Pertama semua, intrapreneur membuat keputusan berisiko menggunakan sumber daya perusahaan. untuk melakukannya, pengusaha menggunakan sumber daya mereka sendiri (Antoncic dan Hisrich, 2001; Luchsinger dan Bagby, 1987; Morris et al, 2008). Kedua, intrapreneurship terjadi di antara karyawan dari dalam organisasi mereka, sedangkan kewirausahaan cenderung terutama secara eksternal terfokus (Amo dan Kolvereid, 2005; Antoncic, 2001; Antoncic dan Hisrich, 2001; Davis, 1999; Luchsinger dan Bagby, 1987).

Meskipun entrepreneurship dan intrapreneurship memiliki perbedaan penting, keduanya juga memiliki beberapa koneksi karena intrapreneurship secara konsisten diposisikan sebagai kewirausahaan dalam organisasi (Antoncic, 2001; Davis, 1999, dalam Asef Karimi, dkk, 2011).

Faktor Pendorong Intrapreneurship

Antonic (2007) yang dikutip Budiharjo (2011) menyebutkan  intrapreneurship didorong oleh dua faktor yaitu lingkungan (environment) dan organisasi (organization).
Pertama, Faktor lingkungan yang positif meliputi dinamika peluang teknologi, pertumbuhan industri, dan permintaan untuk produk baru, sedangkan lingkungan yang tidak dikehendaki meliputi perubahan yang tidak dikehendaki dan persaingan yang tinggi.                     
Kedua, dari sisi organisasi, karakteristik organisasi yang dapat mendorong intrapreneurship adalah sistem terbuka, kendali formal pada aktivitas intrapreneurship, dukungan organisasional, dan nilai-nilai perusahaan. Dalam penelitiannya, Antonic (2007) membuktikan bahwa intrapreneurship berkorelasi secara positif dengan pertumbuhan (company growth), dan dibuktikan pula bahwa dimensi lingkungan dan karakteristik organanisasi (organization characteristics) berkorelasi positif dengan intrapreneurship.
Intrapreneurship Versi  Bambang Suharno


Saya sendiri menyebut intrapreneurship sebagai kewirausahaan eksekutif. Hal ini saya sampaikan berdasarkan pengamatan dan pengalaman saya, dimana faktanya para eksekutif perusahaan yang berhasil adalah mereka yang sejak posisi di bawah sudah terlatih untuk menjalankan peran kreatif, inovatif dan berisiko. 

Ada yang mengatakan bahwa intrapreneurship hanya bisa dijalankan pada perusahaan yang sudah mapan, yaitu perusahaan skala nasional dan multinasional. Hal ini menurut padangan saya kurang tepat. Justru perusahaan skala menengah sangat membutuhkan karyawan yang berjiwa intrapreneur. Para pemilik perusahaan skala menengah pada umumnya adalah CEO perusahaan itu sendiri. Mereka membutuhkan tim yang tangguh, tahan banting, inovatif dan berdedikasi tinggi. Intinya mereka membutuhkan orang yang mirip dengan diri mereka sendiri yang mau merintis usaha dan bermental wirausaha namun tetap menjadi karyawannya.

Ini artinya mereka sangat membutuhkan intrapreneur. Oleh karena itu sistem rekrutmen perusahaan skala menengah perlu menganalisa mental para calon karyawan. Jika mendapatkan calon karyawan yang sedang mencari pekerjaan yang mapan, sebaiknya tidak direkrut. Masih banyak calon karyawan yang ingin memiliki tantangan baru, ingin menjalankan tugas secara mandiri, ingin berkarya alias punya peran nyata dalam mengembangkan perusahaan. Nah calon karyawan seperti inilah yang layak jadi intrapreneur.


referensi:


Tuesday, April 17, 2018

Hari Soul Putra, Motivator Keuangan Indonesia

Hari Soul Putra, Motivator Keuangan Indonesia

Nama aslinya Makmun Jauhari Putra. Kini lebih dikenal dengan nama  HARI ‘Soul’ PUTRA . Ia dijuluki SOUL Entrepreneur dengan pendekatan Menjadi Sejahtera 3 Dimensi, merupakan Lulusan Sarjana Teknik Industri pada Universitas Islam Indonesia di Yogyakarta.
Disamping pernah menjadi profesional di salah satu perusahaan Go Public International yaitu Standard Chartered Bank Divisi Asset dan Marketing Communication Manager di PT Ridha Lingkar Cahaya  juga menjadi Volunteer dan Mentor di Taman Bacaan Masyarakat Learning Lounge Plaza Semanggi (license Dewi Hughes International Foundation) dan General Electric (GE), Organisasi Sukarelawan terbesar di dunia. Dan Certified Training on Civic Education for Future Indonesian Leaders USCF Canada & Certified Training on Civic Education Lab SOSIO Centre for Sociological Studies, Department of Sociology Faculty of Social & Political Sciences University of Indonesia (UI).

Saat ini aktif sebagai Motivator Keuangan Indonesia,WealthFlow 19 Expert, P3K Practitioner, Community Specialist & Master Trainer SLP (The Supreme Learning Program) dan telah bersinergi di beberapa perusahaan dan institusi seperti : PT XL Axiata,Tbk Jakarta, PT Indosat,Tbk Bandung, PT Astra Otoparts,Tbk Jakarta, PT Indofood CBP Sukses Makmur, Tbk., Perum Perumnas, PT Indocement,Tbk Jakarta, STP Trisakti Jakarta, Prasetiya Mulya Business School, UNS Solo, PT Sophie Martin Indonesia, J W Marriot Hotel, The Sultan Hotel, Dharma Wanita Persatuan Kota Balikpapan, DPRD Brebes,  Ponpes Rakha Amuntai Kalsel, TK Islam Citra Pertiwi Banten, SD IT Al Hidayah Cibinong, Mc Donald Mall Depok, Dompet Dhuafa, Rumah Zakat, PKPU, Konsultan Bisnis PT Sahabat Karimah Wisata, PT Andiarta Dewata, PT Fortune Star Global dan lain – lain.

Kini selain sebagai Chairman SMCorp. dan Chief Executive Officer (CEO) SA’I Center (‘Social-spiritual entrepreneur’ Action & Innovation), juga Managing Director WealthFlow 19 Technology, dan Managing Partner Intansari Organizer.  Sebagai penggagas Konsep SOUL Entrepreneur di Indonesia yang juga Pengamat Komunitas, perhatian dan kepeduliannya terhadap masalah Pendidikan dan kemasyarakatan mengantarnya memprakarsai berdirinya Yayasan Masyarakat Raflesia yang bergerak di bidang Research, Charity dan Empowerment dan Ketua Gerakan Indonesia EMAS 2029.

Program Perencanaan Keuangan Pribadi dan Keluarga berbasis Komunitas yang sedang dijalankan saat ini adalah Pengasuh Tetap Konsultasi MOTIVASI KEUANGAN di Republika Online www.Republika.co.id, Nara Sumber Rubrik PERSONAL FINANCE spesifikasi Motivasi Keuangan di Portal Berita OkeZone (MNC Group–PT Media Nusantara Citra,Tbk), Content Source Kanal Perencana Keuangan & Investasi dan Bisnis di Readers Digest Indonesia www.ReadersDigest.co.id, Nara Sumber Majalah Hadila & Tabloid Heart of Jakarta serta Nara Sumber di BCN TV Batam, Smart FM, Sindo Trijaya Radio Network, V Radio, Woman Radio 94,3 FM dll dalam Talk Show untuk topik-topik Perencanaan Keuangan dan Investasi Keluarga.


Dan Pengasuh Program BINA (Bicara Rencana) Keuangan Islami di Ummat TV www.Ummat.tv 
Akhir tahun 2014 M di daulat sebagai Ketua Umum AKKSI (Asosiasi Konsultan Keuangan Syariah Indonesia).
Pada Juni 2015 M, ia ambil bagian dari Pemecahan Rekor MURI (Museum Rekor Indonesia) di Sukabumi, Jawa Barat sebagai Instruktur Sharia FInancial Literacy (Literasi Keuangan Syariah) dalam Pelaksanaan Keuangan Syariah serentak dan terbanyak di Indonesia.

Sunday, April 15, 2018

Kami Menyediakan Pembicara Seminar dan Trainer

Kami Menyediakan Pembicara Seminar dan Trainer

Seiring dengan perkembangan manajemen di lembaga bisnis dan pemerintahan, kebutuhan untuk meningkatkan kualitas SDM melalui seminar dan training semakin meningkat. Manajemen perusahaan dan lembaga pemerintah perlu memastikan bahwa kegiatan in house training yang dilaksanakan dan seminar yang dihadiri atau diselenggarakan dapat berjalan efektif sesuai dengan tujuan.

Oleh karena itu dibutuhkan informasi yang dapat menyediakan pembicara seminar dan trainer yang berkualitas dan sesuai kebutuhan.

Website pembicara-seminar.com dibuat untuk menjadi sarana network antara pembicara seminar dan trainer di berbagai bidang dengan perusahaan, lembaga pemerintah, NGO maupun perorangan yang membutuhkan.

Kami hadir awalnya hanya menyediakan pembicara seminar wirausaha yang ada di Indonesian Entrepreneur Society (IES), namun seiring waktu banyak customer kami yang membutuhkan pembicara seminar dan trainer di berbagai bidang antara lain narasumber untuk topik softskill, motivasi, agribisnis, bisnis online, spiritual, ekonomi - bisnis, keuangan, perpajakan, berbagai bidang teknologi dan sebagainya.

Jika Anda adalah trainer dan pembicara seminar yang belum terdaftar di website ini silakan mendaftar dengan mengirimkan biodata dan foto terbaik ke pembicaraseminarzone@gmail.com hp: 0813 1069 6307

Demikian pula jika anda membutuhkan trainer dan pembicara seminar dengan topik tertentu email juga ke pembicaraseminarzone@gmail.com hp: 0813 1069 6307 (p Dwi)

Saturday, April 14, 2018

Danu Kuswara Mengisi Acara Motivasi Etos Kerja Untuk Aparatur Desa se Belitung

Danu Kuswara Mengisi Acara Motivasi Etos Kerja Untuk Aparatur Desa se Belitung

Bertempat di Best Western Hotel Jakarta, Rabu 14 Maret 2018, Ustad Danu Kuswara dipercaya sebagai motivator  di acara pelatihan motivasi aparatur desa ke Belitung, alias Bumi Laskar Pelangi. Acara yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembangunan Desa (Bangdes) Kemendagri ini berlangsung mulai jam 19.30 hingga tengah malam. Para peserta sangat antusias mengikuti acara motivasi ini.

Peserta yang berjumlah lebih dari 50 orang terdiri dari kepala desa dan aparatur desa yang sedang mengikuti sebuah pelatihan tentang pengelolaan dana desa di Jakarta. Materi dari Danu Kuswara dimaksudkan untuk memberi motivasi kepada para aparatur desa untuk mengelola dana desa dengan amanah sehingga terjadi kemajuan yang baik di masing-masing desa.

Ustad Danu Kuswara  yang akrab dipanggil Kang Danu adalah motivator dan pembicara seminar yang bermitra dengan Indonesian Entrrepreneur Society (IES) sejak beberapa tahun lalu. Sehari-harinya disibukkan dengan kegiatan memberikan Konseling, memberikan Motivasi,  Pencerahan dan Pelatihan (Training) di Perkantoran, Masjid, Majelis Taklim, Perumahan, Perkumpulan, juga mengisi siaran motivasi dan inspirasi spiritual di RRI Pro 2, 105 FM Jakarta, Bahana 101.8 FM Jakarta dan berbagai radio lainnya. 


Di bulan Ramadhan ia biasanya mengisi juga siaran Sahur, “Sahur Bersama Ustadz” di RRI Pro 1, Pro 2 dan Pro 4, serta acara bedah lagu Religi, “Syair Bersyiar” di RRI Pro 2 FM.

Mendirikan dan mengelola sebuah majelis kajian untuk saling belajar dan mengaplikasikan nilai-nilai agama yang bernama “Komunitas Cerah Hati” serta bercita-cita ingin membangun dan mengelola sebuah pesantren tahfidz Qur’an  terpadu, yang diperuntukkan bagi anak yatim piatu kurang mampu dan anak dhuafa.


Salah satu buku karyanya yang merupakan kumpulan materi ceramah  di RRI Pro 2 FM dan Bahana 101.8 FM berjudul: SUKSES  PENUH  KEBERKAHAN.

Bambang Suharno, Trilogi Mental Entrepreneur

Bambang Suharno, Trilogi Mental Entrepreneur

Perkenalkan saya Bambang Suharno, akan membantu anda mencarikan pembicara seminar yang tepat untuk anda.  Saya memiliki banyak sahabat yang biasa menjadi pembicara seminar mulai dari pengusaha hebat, pakar, ketua organisasi, tokoh pemuda dan sebagainya yang cocok untuk menjadi pembicara seminar bisnis, wirausaha, manajemen, agribisnis, maupun motivasi. Sahabat-sahabat saya member Indonesian Entrepreneur Society (IES) yang sering jadi partner saya dalam seminar dan training antara lain Wan M Hasim (mentor senior IES, owner 60 outlet Idolmart dan Toysmart), , Ubaydilah Anwar (trainer softskill), Hermawan GS (pengusaha kuliner, bengkel, hipnoterapis), Waryono (officeboy entrepreneur, pemilik usaha tanaman hias, pecel lele, WC umum, rumah makan padang), Anang Sam (bibi londre), Riza Ananto (Ahli Sistem dan Software Tatakelola Usaha) dan lain-lain.

Tentu saja, saya juga pembicara seminar dan trainer wirausaha  dan motivasi, skala lokal dan nasional. Saya sering dijuluki sebagai spesialis perintis.  Saya merintis berdirinya Indonesian Entrepeneur Society (IES) tahun 2002 dan menjadi Direktur. IES adalah  sebuah komunitas wirausaha yang dijadikan sebagai wadah perubahan dan pembinaan masyarakat untuk berwirausaha dimana anggotanya antara para pebisnis pemula, calon entrepreneur dan pelaku bisnis yang ingin maju dengan beragam latar belakang dan usia.

Saya juga sebagai salah satu pendiri PT Gallus Indonesia Utama (penerbit majalah Infovet, majalah Cat & Dog, majalah Info Akuakultur,  buku dan multimedia peternakan) dan dipercaya sebagai Direktur hingga sekarang. Saya bersama artis Cici Tegal yang juga member IES, ia mendirikan Waroeng Ayam Panggang Cici Tegal di Foodcourt Depok Town Square (Detos).Kemudian bekerjasama dengan Davit Putra (pebisnis online) mendirikan komunitas RWP (Rahasia Website Pemula) di Depok, Bekasi dan Cikarang.
Pendek kata, saya tidak suka berkarir di perusahaan mapan, melainkan lebih tertantang merintis bisnis  dari Nol. Pantaslah, buku saya “Langkah Jitu memulai Bisnis Dari Nol” yang terbit akhir 2006 laris manis kini tercetak lebih dari 65 ribu eksemplar, masuk kategori best seller versi Kompas-Gramedia selama 8 bulan berturut-turut selama tahun 2007.

Selain mengelola bisnis, saya beserta rekan-rekannya di IES giat mengadakan seminar dan talkshow di radio antara lain di RRI pro2 105 fm Jakarta, radio RPK 96.3 fm Jakarta, Radio Elgangga 100.3 FM Bekasi, Radio Dakta 107 FM, Radio Delta 99.1FM, Radio Bahana 101.8 FM dan lain-lain. Adapun seminar yang dilaksanakan di antaranya “Bisnis Sambilan, Langkah Awal Menjadi Entrepeneur Sukses” yang saat ini telah mencapai lebih dari 48 angkatan, Seminar Tata Kelola Usaha, Seminar Bisnis Online, Seminar ”7 Cara Tidak Gila Jadi Pengusaha” dan lain-lain. 

Saya telah menjadi pembicara seminar dan trainer di Jakarta dan di berbagai kota di Indonesia. Sebagai trainer wirausaha persiapan pensiun di Holcim Indonesia, Indocement Tunggal Perkasa, Mulia Keramik, Kementerian Kehutanan, Kementerian Kesra, Kementerian Koperasi-UKM dan sebagainya. Juga menjadi pembicara seminar wirausaha di berbagai kampus antara lain UI, Univ Atmajaya, Univ Tri Sakti, STIE Tunas Nusantara, UII Yogyakarta, Universitas Halu Oleo Kendari, Univ Lambung Mangkurat Banjarmasin, Univ Satya Wacana dan sebagainya.

Atas kepedulian dan dedikasi saya dalam mengembangkan dunia kewirausahaan di Indonesia tercinta, pada tahun 2009  sayamendapat penghargaan Indonesian Small Medium Business Entrepreneur Award (ISMBEA 2009) yang diberikan oleh mantan Menakertrans Erman Suparno.

Kegiatan saya tidak hanya seminar dan bisnis, saya juga terus berkarya di dunia tulis-menulis. Lebih dari 20 judul buku telah saya tulis baik buku bisnis maupun non bisnis, baik yang diterbitkan sendiri maupun diterbitkan oleh penerbit lain. Sebagaimana disebut di atas, Buku ”Langkah Jitu Memulai Bisnis dari Nol telah dicetak lebih dari 65 ribu eksemplar dan meraih kategori Buku Laris Kompas-Gramedia selama 8 bulan di tahun 2007. Buku terbaru saya  ”Jangan Pulang Sebelum Menang” terbitan Gita Pustaka telah beredar di Gramedia dan toko buku terkemuka lainnya. Buku ini merupakan buku motivasi sukses kehidupan dan kepemimpinan.

Seiring dengan perkembangan kebutuhan, tahun 2018  kami dikembangkan materi training Kunci Sukses Intrapreneurship, yakni mental kewirausahaan untuk karyawan yang sangat dibutuhkan untuk kemajuan perusahaan/lembaga maupun karyawan itu sendiri.  Jika membutuhkan pembicara atau trainer silakan hubungi saya melalui email : pembicaraseminarzone@gmail.com ,0813.1069.6307 (pak Dwijo)