Saturday, April 15, 2017

TIGA CARA MENGATASI KETAKUTAN SAAT MAU BICARA


 Artikel oleh :  Ubaydillah Anwar


Berbicara di depan umum termasuk “enemy” yang paling menakutkan bagi banyak orang.  Bagi sebagian orang, ada yang lebih baik memilih disuruh mengerjakan pekerjaan kasar berkali-kali ketimbang harus naik podium untuk bicara. Malah kalau melihat hasil riset yang sudah begitu populer, temuannya lebih gila lagi. Berbicara di depan umum, menurut temuan itu, menempati urutan pertama ketakutan manusia dan nomer duanya barulah kematian.

Rasa takut jelas tidak bisa dihilangkan dari dada. Ketika rasa itu telah hilang, berarti kesempurnaan kita sebagai manusia yang tidak sempurna telah dipertanyakan. Pembicara paling top di dunia pun tetap punya rasa takut. Tanyalah ke mereka kalau tidak percaya. Sama seperti pembalap. Jika dikira mereka tak takut mati lagi meski aksinya kerap “menantang maut”. 

Rasa takut hanya bisa dikuasai. Seperti kata Mark Twin, pemikir asal Irlandia, berani itu bukan berarti tak ada lagi rasa takut, tetapi mampu mengatasi rasa itu. Bagaimana caranya? Ada tak terhitung cara yang bisa kita lakukan yang sumbernya dari berbagai pengalaman. Pengalaman dan hasil pengamatan saya di bawah ini semoga bisa membantu Anda.

Pertama, kebiasaan. Kemampuan seseorang mengatasi rasa takut semakin bagus seiring dengan kebiasaan yang dijalaninya atau yang diamatinya. Kebiasaan di sini termasuk tradisi keluarga atau lingkungan. Anak keluarga pelaut yang tinggal dekat laut akan lebih terlatih mengatasi rasa takut laut. Anak yang besar di lingkungan pebisnis akan lebih mudah berani berbisnis.  Manusia adalah makhluk pembelajar, baik belajar dari pengalamannya atau belajar dari pengalaman orang lain.

Apa artinya ini bagi kita? Untuk melatih kemampuan menangani rasa takut, langkah yang bisa kita lakukan adalah membiasakan diri di depan umum dalam berbagai forum atau dengan berbagai cara. Misalnya, Anda bertanya, Anda menanggapi, Anda menyampaikan pendapat, dan seterusnya. Usahakan forumnya formal sebab ada perbedaan antara Anda bicara dalam suasana biasa dengan ketika formal. Untuk menambah kebiasaan, lakukan latihan sendiri, simulasi sendiri, dan berkali-kali. Lihat juga pada sejumlah contoh yang cocok bagi Anda.

Kedua, keahlian. Seorang pilot berani menerbangkan besi segede itu bukan karena telah berani nekat mati. Rasa takut tetap ada. Yang bisa membuat mereka mampu mengatasi rasa takut adalah ilmunya atau keahliannya. Demikian juga para pelaku atraksi ekstrim. Darimana keahlian didapat? Keahlian kita dapatkan dari mempelajari teori dan konsep kemudian mempraktekkan keduanya dalam jumlah yang tak terhitung. Seperti kata Aristotle ratusan tahu lalu, kesempurnaan itu bukan hasil dari aksi yang sekali jadi, tapi buah dari latihan yang dibiasakan. “Excellence than is not an action, but habit. Semakin bagus skill kita dengan bukti-buktinya, maka semakin kuat pula kemampuan kita mengatasi rasa takut. Bacalah tip dari sejumlah artikel, bacalah buku, bacalah teori, lalu teorikan praktik Anda. Dalam dua tahun kita berlatih, perubahan pada kemampuan sudah bisa Anda rasakan. Trust me!

Ketiga, penyiasatan. Jika Anda belum punya kebiasaan lalu keahlian pun masih minim, maka lakukanlah penyiasatan. Penyiasatan ini banyak sekali jurusnya. Yang sangat mendasar adalah persiapan yang sempurna, lalu arahkah fokus pikiran pada tugas Anda yang obyektif. Coba Anda tanya ke diri sendiri, apa tugas Anda? Tugas Anda adalah menyampaikan pesan yang menarik buat audien. Pikirkan apa pesannya, bagaimana disampaikan, lalu bayangkan respon audien. Batasi pikiran Anda agar memikirkan hal ini saja. Rasa takut akan muncul dan semakin tak terkontrol apabila Anda terbawa untuk memikirkan asumsi-asumsi subyektif yang Anda buat sendiri, misalnya bagaimana nanti kalau salah, apa kata audien mengenai saya, bagaimana kalau si anu melihat, dan seterusnya. Semakin lair Anda mengembangkan asumsi subyektif yang Anda bikin sendiri, semakin mencengkeramlah rasa takut itu.

Cara yang keempat sampai ke yang sembilan ratus sembilan puluh sembilan adalah lakukan dan yang ke seribu adalah jam terbang. Berani coba?

No comments:

Post a Comment