Sunday, May 28, 2017

PUASA MEMBURU PAHALA ATAU PUASA PERUBAHAN DIRI ?

oleh: Ubaydillah Anwar
Sangat tegas dijelaskan al-Quran bahwa tujuan asasi perintah puasa bukan untuk berburu pahala dan pengampunan, tetapi untuk perubahan diri agar kita bisa lahir sebagai insan yang lebih bertakwa (Surat al-Baqoroh: 183-84).

Takwa sendiri kalau kita terjemahkan dari pengertiannya yang umum adalah kemampuan untuk menjaga diri agar selalu in-line dengan rel Allah. Ada belasan fitur ketakwaan di dalam al-Quran, yang dijelaskan mulai dari fitur di lantai batin, misalnya iman, cepat mengontorl diri, sampai ke fitur fisik (perilaku), misalnya mudah berinfak, sholat, zakat, dst.
Jika perubahan diri yang menjadi tujuannya, lalu kenapa informasi yang banyak diserap masyarakat atau yang banyak didengang-dengungkan oleh masjid-masjid, majlis taklim, ceramah asatidz di media, dll, lebih banyak mengajak manusia untuk berburu pahala dan pengampunan di bulan Ramadhan ketimbang ajakan melakukan perubahan diri? Apa dasarnya?
Umumnya, ajakan untuk berburu pahala dan pengampunan di bulan Ramadhan itu ditafsirkan dari Hadis Nabi atau bisa juga dari ayat Al-Quran tentang lailatul qodar. Hanya saja sejauh yang saya pelajari (bisa jadi saya salah), posisi pahala dan pengampunan dosa di situ bukan dijelaskan sebagai motivasi (nawaitu), tetapi sebagai balasan dari perbuatan (jaza). Tentu, kalau mengikuti aturan yang berlaku, tidak semua perbuatan mendapatkan balasan, bahkan banyak yang hanya mendapatkan lapar dan dahaga.
Berbedakah dampaknya secara psikologis jiwa antara berpuasa untuk berburu pahala dan berpuasa untuk perubahan diri, meskipun sama-sama lillahi taala? Dilihat dari aspek psikologis jiwa ini jelas berbeda. Orang yang target puasanya untuk melakukan perubahan diri adalah orang kuat dan puasanya diperkirakan (berpotensi) lebih punya dampak pada perubahan perilaku ketakwaan.
Ketentuan dalam konsep SDM modernnya adalah from the inside-out atau orang yang menjalankan proses perubahan dari dalam dirinya, bukan mengandalkan perubahan dari kondisi, pernyataan, atau takdir Tuhan. Ada banyak ayat di dalam al-Quran yang kalau ditarik benang merahnya akan memancarkan sinyal yang sama bahwa Allah baru akan mengubah kita setelah kita mengubah diri.
Lalu bagaimana dengan puasa yang tujuannya untuk berburu pahala dan pengampunan? Perilaku kita seringkali terdekte oleh motif kita. Artinya, jika pikiran sudah dipenuhi motif untuk pahala dan dosa, maka secara otomatis dorongan untuk perubahan dirinya menjadi lemah, kurang, atau bahkan hilang. Ini soal thinking focus. Padahal, bukankah al-Quran menjelaskan puasa untuk perubahan diri? Bahkan para Nabi sekalipun tidak dianugerahi perubahan secara gratis.
Selain itu, bukankah pahala dan dosa itu berada di wilayah yang di luar kontrol kita? Artinya, tidak ada yang bisa memastikan puasanya mendapatkan pahala atau pengampunan, meskipun nawaitu-nya seperti itu. Sebab soal pahala dan pengampunan murni di bawah kontrol Allah. Yang sudah pasti bisa kita kontrol adalah perubahan diri. Tak perlu kita minta izin siapapun untuk mengubah diri.
Darimana perubahan diri bisa dimulai? Secara teori dapat dijelaskan bahwa orang akan melakukan perubahan diri ketika: a) Menemukan sesuatu yang ia koreksi dari dirinya, entah kekurangan, kesalahan, atau hal-hal yang membuatnya tidak puas dengan kondisi sekarang, b) Punya tujuan yang jelas dari koreksi itu (Smart Goal), dan c) Aksi nyata dengan kesungguhan, bukan sekedar aktivitas.
Mari kita gunakan Ramadhan ini untuk menemukan kesalahan, kekurangan, atau ketidakpuasan kita terhadap diri sebagai pintu untuk perbaikan. Jika niatnya karena Allah dan caranya sesuai syariah, maka (logika agamanya) kalkulator Allah akan bekerja sendiri untuk menghitung pahala dan pengampunan!

Amin.

REKOMENDASI ​​TOPIK RAMADHAN LAIN: 
1. Ramadhan dan penggemblengan Integritas Manusia 
2. Puasa Sebagai Pendidikan Motivasi Plus di Tempat Kerja 
3. Menjadikan Ramadhan sebagai moment of change 
4. Jangan Biarkan Amarahmu Memangsa Dirimu 
5. Membongkar Rahasia Lailatul Qodar dan Bagaimana Aplikasinya di Tempat Kerja 
6. Refleksi Ramadhan : Kenapa iblis Sukses Menyesatkan Manusia , dan Apa yang Harus Kita 
   Transformasikan
7. Landasan Membangun Sikap Kreatif dan Produktif di Tempat Kerja 8. Implementasi Syahadatain Dalam Meningkatkan Ethos Kerja 9. Tiga Penghancur Kemajuan Karier Menurut Indikator Al-Quran 10. Implementasi Iman , Sabar , dan Syukur dalam Menghadapi Chaos di Tempat Kerja 11. Harmoni Diri dengan Dinamika Jihad dan Tawakal
12. Mengukur Efek Ibadah pada Kinerja dan Kualitas Hidup
13. Membuka pintu-pintu keberuntungan dengan Takwa
14. Kompetensi Syukur dan Peningkatan Etos Kerja
15. Spirit Musabaqoh Menghadapi Persaingan Global
16. Golden Ways of Mua'amalah : Sukses Membangun Komunikasi Interpersonal Menurut Al-Quran  
17. Finding Your Passion with Al- Fatihah
18. Building Powerful Teamwork with Spiritual Values
19. Bagaimana Mengolah Konflik yang Merusak menjadi  
20. Konflik yang Membangun ?
21. Tauheed Based Excellence Customer Service

22. Pemantapan Mental dan Spiritual Menghadapi Pensiun

Tertarik untuk menghadirkan Ubaydillah Anwar di tempat kerja Anda?





No comments:

Post a Comment