Friday, July 14, 2017

KAPANKAH KEKURANGAN ANDA MENJADI KEKUATAN?

| Ubaydillah Anwar, CSS, CPT | Human Learning Specialist |


Kita tidak bisa membedakan kelemahan dan kekuatan seperti membedakan laptop dan sendal jepit. Kelemahan dan kekuatan bukanlah benda fisik yang bisa dibedakan terpisah. Keduanya adalah konstruksi dalam diri yang menyatu dan dinamis. Belum tentu kelebihan Anda menjadi kekuatan dan tidak selamanya juga kekurangan kita menjadi kelemahan. “Life is an art”, kata Samuel A. Butler, Penyair Inggris.

Seseorang yang lama mendampingi Presiden Soeharto pernah mengatakan ke saya. Menurut dia, kelebihan Pak Harto adalah kemampuannya mendengar pendapat para ahli. Beliau sering memanggil para ahli sebelum membuat program.  Kenapa ini dilakukan?  Salah satu alasannya adalah karena beliau sadar beliau tidak ahli di berbagai biang dan sekolahnya juga tidak tinggi.
Kemampuan mendengar itu telah menghntarkan Soeharto pada sebuah kehebatan dimana ia dinilai sebagai sosok pemimpin yang bisa membuat program sangat membumi dan bisa dipahami oleh  yang tidak sekolah sekalipun sampai professor. Di zamannya, siapa yang tidak tahu Repelita, RT, RW,  atau Kabe? Seringkali lebih beruntung orang yang tidak tahu namun bisa menggunakan ketidaktahuannya ketimbang orang yang pintar namun tidak bisa menggunakan kepintarannya.

Kembali ke bahasan kita, jadi kapankah kelemahan kita bisa diolah menjadi kekuatan? Ada beberapa kiat yang bisa kita terapkan.

Pertama, ketika kelemahan itu kita ketahui dengan baik (akurat). Kelemahan memang kelemahan, tetapi jika kita mengetahuinya, maka pengetahuan itu adalah kekuatan. Orang yang tahu kelebihannya tapi tidak tahu kelemahannya akan sering gagal mengoptimalkan kelebihan. Pengetahuan akan menggiring kita pada pilihan fokus konsentrasi, strategi, asah kompetensi, antisipasi, dan posisi di medan kompetisi. 

Dalam dunia karier sudah sering kita dengar pentingnya membangun personal brand (merek-diri) untuk berkompetisi. Kata Tom Peters,kita adalah CEO perusahaan sendiri yang disebut “Me-Inc”. Apa kuncinya membangun brand? Kuncinya menurut praktisi branding, David McNally,  adalah kekhasan, revelansi, dan konsistensi. Mengetahui kelemahan dapat menjadi tool membangun kekhasan.

Kedua, ketika kekurangan itu kita sadari sebagai spirit perubahan. Berbagai training telah dilakukan oleh sejumlah organisasi. Tujuannya  agar setelah training ada perubahan. Pertanyaannya adalah mungkinkah seseorang bisa berubah sebelum menyadari kelemahan dan kekurangannya? Hampir tidak pernah terjadi. Sikap defensif dan denial penghambat perubahan yang laten. Para Nabi yang dikasih mukjizat saja tak diberi kemampuan untuk mengubah kesadaran orang yang menolak. Kekurangan memang kekurangan, tapi kalau kita menjadikannya  sebagai spirit perubahan,  bukankah hasilnya akan menjadi kekuatan?

Ketiga, ketika kelemahan itu kita jadikan sebagai modal untuk bersinergi. Bersinergi adalah kawin. Sinergi ini telah menjadi cara alami untuk menghasilkan kreasi. Seorang bayi tidak akan lahir bila laki-laki kawin dengan laki-laki. Sinergi lahir dari perkawinan perbedaan. Teamwork yang handal adalah ketika anggotanya punya kelebihan yang beragam. Negara yang besar adalah negara yang dikelola secara sinergis, Bhineka Tunggal Ika. Gunakan kelemahan Anda untuk bersinergi. pembicara seminar

Semua orang mengharapkan kita menjadi manusia tanpa kekurangan dan kita pun seringkali mengharapkan mereka begitu. Padahal, kalau kita semua menjadi makhluk yang sempurna, ini bencana buat semua. Jadi, kekurangan yang dimiliki orang lain adalah peluang bagi kelebihan kita. Iya kan?






No comments:

Post a Comment