Monday, October 16, 2017

Technopreneurship, Tidak Selalu Membangun Pabrik (artikel Bambang Suharno di Majalah Forum Management 2013)

Bersama delegasi Indonesia, beberapa tahun lalu saya berkesempatan untuk untuk berkunjung ke Kota Atlanta, Georgia, Amerika Serikat, untuk mengikuti seminar dan melihat sebuah pameran bisnis perunggasan terbesar di dunia, International Poultry Expo (IPE). Lokasi pameran sangat strategis, yakni di Georgia Convention Center. Tidak jauh dari sana, ada kantor pusat studio televisi CNN dan kantor pusat perusahaan  minuman ringan terbesar di dunia, Coca Cola.

Di pameran perunggasan, saya melihat bagaimana canggihnya teknologi diterapkan dalam pengembangan bisnis ayam, mulai dari kandang otomatis, sistem pemeliharaan yang terintegrasi dari pembuatan pakan ayam, pemberian pakan dan minum otomatis, teknologi menangkap ayam, memotong ayam hingga pengolahan daging dan telur ayam. Saya juga menyempatkan diri berkunjung ke pemotongan ayam modern yang berlabel halal dengan standar Majelis Ulama setempat. Saya tidak terlalu kaget dengan teknologi tersebut karena saya tahu, sebagian dari teknologi tersebut ada yang sudah diterapkan di perusahaan-perusahaan pembibitan unggas (breeding farm) dan pabrik pakan modern di Indonesia seperti Japfa Comfeed, Charoen Pokpand Indonesia, Sierad Produce dan sebagainya.
Namun di luar semua itu tak kalah menariknya adalah kantor pusat Coca-cola yang berada di seberang lokasi pameran. Perusahaan Coca Cola didirikan tahun 1944 oleh Asa Griggs Candler yang semula pemilik sebuah toko kimia. Pada awalnya ia menjual minuman coca cola dalam sebuah kedai minuman semacam warkop di negeri kita. Para penggemar coca cola dimanapun, bila ingin menikmati minuman coca cola harus datang ke kedai, cukup dengan mengeluarkan kocek 5 sen dolar. Ramuannya adalah coke dicampur soda, yang membuat tubuh terasa segar.


Dikisahkan, pada suatu hari seorang teman Candler datang ke kantornya dan menawarkan sebuah rahasia penting yang dapat membuat coca cola menyebar ke seantero dunia. Untuk mengungkap rahasia tersebut, teman Candler meminta bayaran yang tidak kecil untuk ukuran dia saat itu.

Setelah berdiskusi cukup alot, Candler bersedia menandatangi cek pembayaran atas informasi dari sang kawan tadi.

Dengan gembira, sang kawan menerima cek tersebut. Kemudian ia mendekatkan wajahnya ke telinga Candler membisikkan dua kata yang dikemudian hari merubah perusahaan Coca cola yang semula perusahaan lokal menjadi perusahaan yang mendunia.

Dua kata tersebut adalah, ”Botolkan saja!”. 

”Ya, botolkan saja. Hanya itu!”kata teman Candler. Kepalang sudah mengeluarkan banyak uang,  Candler menuruti apa yang disarankan kawannya tadi. Selanjutnya anda tahu sendiri bagaimana suksesnya minuman ini di berbagai belahan bumi.

Dengan sistem penjualan model warkop pertumbuhan Coca cola hanya berputar di wilayah Atlanta dan sekitarnya.  Untuk merambah ke kota lain, dibutuhkan survey kelayakan usaha. Setelah minuman ini disajikan dalam botol, konsumen dimanapun di dunia bisa menikmati Coca cola, tanpa harus datang ke kantin atau warung makan. Ambil botol, langsung nikmati!

Sudah barang tentu, proses merubah sajian Coca cola dari bentuk ramuan menjadi bentuk botol tidaklah sesederhana cerita tadi. Di balik kisah sukses itu pasti ada tantangan, bagaimana merubah pola manajemen yang semula manajemen kedai menjadi manajemen pabrik.

Proses ini kata Burke Hadges dalam buku Copycat Marketing disebut sebagai efisiensi yang sebenar-benarnya.  Padanan dari kata efisiensi adalah leverage yang berasal dari Bahasa Perancis yang artinya menjadikan lebih ringan. Perubahan penjualan Coca cola dari kedai menjadi bentuk botol adalah sebuah efisiensi. Pengembangan Coca cola menjadi jauh lebih ringan dengan model pembotolan, dibanding dengan membangun kedai di berbagai penjuru.

Entrepreneurship dan Technopreneurship

Dalam perspektif entrepreneurship, perubahan di atas bukan sekedar efisiensi. Saya memandang inilah salah satu langkah yang disebut sebagai Technopreneurship yang hebat.

Rekan saya Dr Ono Suparno pakar dari IPB membedakan entrepreneurship biasa dan technopreneurship (technology entrepreneurship) dengan cara yang mudah dipahami.  Technology entrepreneurship (technopreneurship ) harus sukses pada dua tugas utama, yakni menjamin bahwa teknologi berfungsi sesuai kebutuhan target pelanggan, dan teknologi tersebut dapat dijual dengan mendapatkan keuntungan (profit).  Entrepreneurship biasa umumnya hanya berhubungan dengan bagian yang kedua, yakni menjual dengan mendapatkan profit.

Berdasarkan definisi di atas maka technopreneurship di suatu negara belum tentu langsung bisa diaplikasikan di negeri lain. Sebagai contoh di AS seorang peternak ayam bisa memelihara 5.000 ekor ayam dengan memanfaatkan tenaga keluarga. Ini bisa dilakukan karena semuanya serba otomatis mulai dari kandang, proses pemberian pakan dan minum otomatis hingga menangkap ayam untuk siap dipotong. Mengapa mereka melakukan otomatisasi peternakan? Bukan karena ingin terlihat keren, melainkan karena apabila menggunakan tenaga manusia, harga ayam di sana akan sangat mahal, tak mampu bersaing dengan harga ayam Indonesia yang menggunakan tenaga kerja yang lebih murah. Sebaliknya, jika otomatisasi peternakan ini diterapkan 100% di negeri kita kemungkinan yang terjadi adalah, otomatisasi lebih mahal dibanding dengan tenaga manual. Itu sebabnya teknologi peternakan ayam yang dikembangkan di negeri kita adalah yang cocok dengan situasi Indonesia, umpamanya teknologi Closed House (kandang tertutup) semi otomatis yang tepat untuk wilayah tropis.

Kita melihat technopreneurship hampir selalu berkaitan dengan capital besar. Di Indonesia ada kisah sukses Teh Botol Sosro dan Aqua, yang merupakan technopreneurship yang dalam proses perkembangannya mewajibkan membangun pabrik dengan modal besar. Demikian halnya yang terjadi di indutri pertanian dan peternakan.

Pertanyaannya, adakah penerapan technopreneurship yang tidak memerlukan modal besar?
Jawabannya untuk saat ini; ada dan banyak.

Technopreneur di Era Informasi

Mari kita lihat perubahan dunia berdasarkan cara manusia mencari nafkah. Di Era purbalaka, manusia mencari dapat hidup dengan berburu. Di era ini, manusia yang sukses adalah yang berhasil mendapat hasil buruan yang banyak dalam waktu singkat.

Era manusia berburu berhenti semenjak manusia berkreasi bercocok tanam dan memelihara hewan. Manusia memasuki era pertanian. Di era ini, manusia sukses adalah yang memiliki lahan luas dan subur yang ditanami aneka tanaman produktif.

Selanjutnya memasuki abad 19-20 Manusia memasuki era Industri. Di era ini, orang-orang yang dianggap sukses mengembangkan ekonomi adalah yang memiliki industri. Kita melihat orang terkaya di dunia adalah pemilik pertambangan minyak, pemilik pabrik baja dan sebagainya. Pada umumnya orang-orang kaya melalui proses bertahun tahun mengembangkan usahanya, sebagian adalah turunan orang kaya juga.

Kini, kita berada di abad 21 yang sering disebut sebagai era informasi. Pada era ini teknlogi informasi berkembang sangat cepat. Terjadi perubahan yang sangat mendasar.

Syarat menjadi sukses berbisnis semakin “tanpa modal”. Tidak perlu lahan subur yang luas atau  pabrik besar, namun bisa hanya bermodal laptop dan sambungan internet. Jadi sekarang inilah  yang bisa disebut sebagai era technopreneurship, dimana siapapun, berlatarpendidikan apapun, dari bangsa manapun berhak untuk menjadi pengusaha hebat dengan technopreneurship. Lihat orang terkaya di dunia. Kini tidak perlu pemilik pabrik, pemilik tambang atau pemilik lahan pertanian yang luas. Mereka adalah pencipta google, facebook dan produk IT yang sangat inovatif.

Peluang mengembangkan technopreneurship melalui IT masih seluas samudera. Money making model di era ini masih terus berkembang. Semula media online mendapatkan iklan hanya mentransformasikan sistem iklan media cetak menjadi online. Tarif iklan di bayar per periode tayang sebagaimana media cetak. Sekarang cara-cara beriklan semakin variatif lagi. Iklan di media online ada yang menggunakan sistem pay per click, pay per impression dan saya pastikan akan berkembang terus. Berkembang pula jasa mengumpulkan data calon customer melalui games online, ebook gratis dan sebagainya yang disusul dengan jasa email marketing. Belum lagi berkembang ilmu SEO (Search Engine Optimation) untuk memastikan sebuah halaman website berada di posisi halaman pertama mesin pencari.

Di Indonesia, pertumbuhan pengguna internet sangat luar biasa. Tahun 2011 lalu diperkirakan pengguna internet 55 juta dan diperkirakan tahun 2014 akan melonjak menjadi 150 juta. Indonesia juga masuk dalam 5 besar pengguna facebook.  Tahun ini diperkirakan 48 juta akun facebook asal Indonesia. Mereka adalah pasar yang besar bagi berbagai macam bisnis, baik barang maupun jasa.

Dan untuk meraih pasar tersebut, tidak diwajibkan memiliki modal untuk membuat pabrik ataupun membeli lahan subur. Selamat mencoba. ***




No comments:

Post a Comment