Saturday, October 21, 2017

Jadilah Pensiunan Yang produktif


Alkisah ada seorang eksekutif sebuah perusahaan rumahnya bersebelahan dengan seorang karyawan level bawah di perusahaan yang sama. Keduanya pensiun dalam waktu yang hampir bersamaan. Lima tahun setelah pensiun, dua rumah yang bersebelahan situasinya berbalik.

Sebelum pensiun rumah di eksekutif jauh lebih megah dibanding sebelahnya yang karyawan bawahan. Sementara si bawahan menyadari bahwa kelak kalau pensiun pesangonnya tidak akan cukup untuk membiayai hidup, maka ia berinisiatif melakukan kegiatan bisnis di luar jam kantor, khususnya hari sabtu dan minggu. Yang dilakukannya sederhana, mencoba membeli barang rongsokan dan dijualnya ke pengepul. Barang rongsokan itu bisa dari pabrik bisa pula dari rumah. Pabrik tempatnya bekerja merasa ditolong karena sering dipusingkan masalah barang bekas yang dijual nggak laku, tapi kalau dibuang juga sulit.

Bisnis ini memang tidak berjalan mulus. Maklum usahanya dikerjakan dalam waktu terbatas. Untunglah sang istri dan anaknya sangat mendukungnya dan mau membantu pekerjaannya. Bahkan sehingga di awal usahanya keluarga  sepakat untuk berhemat demi ”masa depan”, yaitu masa pensiun.

Nah, ketika masa pensiun tiba, barulah ia memfokuskan usahanya agar lebih berkembang lagi. Namanya makin dikenal oleh para pelaku bisnis barang bekas. Ia telah bertekad menyisihkan sebagian penghasilannya untuk mengembangkan bisnisnya.

Alhasil 5 tahun setelah pensiun ia sudah dapat merenovasi rumahnya dan membeli mobil untuk operasional. Sesuatu yang justru sulit didapat ketika masih menjadi karyawan.

Sebaliknya, mantan atasannya justru kondisi ekonominya makin surut. Di masa kerjanya eksekutif ini merasa segala sesuatu akan berjalan dengan lancar dan baik-baik saja. Ia merasa gampang menghadapi masa pensiun. Ia tidak mempersiapkan jauh hari. Yang ia lakukan adalah pesangon yang jumlahnya cukup besar itu digunakan untuk membeli mobil baru, karena mobil dinas harus dikembalikan, sementara mobil pribadi sudah tua umurnya. Sisanya ia investasikan kepada seseorang yang menawarkan investasi bagi hasil yang sangat menggiurkan, di atas 5% per bulan.

Rupa-rupanya investasi itu justru investasi penipuan. Maka ludeslah dana investasi itu. Berikutnya, karena kebutuhan anaknya yang kuliah, maka ia tidak sanggup membiayai mobilnya, sehingga dengan berat hati akhirnya mobil dijual. Apalagi dia juga merasa semakin tua dan tidak sanggup menyetir sendiri. Rumahnya terlihat kurang terurus. Warna dindingnya makin kusam, dan ada kerusakan di beberapa bagian.

Ini bukan kisah rekaan, benar-benar nyata. Saya tulis sebagai sebuah gambaran potret orang pensiun di negeri kita. Asal anda tahu, di Indonesia, jumlah pensiuan perusahaan terus bertambah sejak tahun 2000an. Hal ini terjadi karena  ekonomi Indonesia mulai bertumbuh sejak tahun 1970an. Pada tahun-tahun itulah banyak perusahaan-perusahaan baru yang kini menjadi pelaku ekonomi skala besar. Sebut saja misalkan Indocement, Indofood, Holcim (eks Semen Nusantara), Garuda, Charoen Pokpand, Japfa dan sebagainya. Perusahaan-perusahaan tersebut berdiri tahun 1970an dan 30 tahun kemudian yaitu tahun 2000an, generasi pertama perusahaan tersebut memasuki usia pensiun.

Tahun 2000an pulalah mereka melakukan alih generasi kepemimpinan.

Dengan situasi seperti itu, maka banyak orang pensiun terkaget-kaget dengan masa pensiunannya. Mereka adalah para karyawan yang mendedikasikan seluruh waktunya untuk perusahaan. Rutinitas sehari-hari dinikmati hingga tanpa terasa mereka sudah memasuki masa bekerja 30 tahun yang artinya harus segera pensiun dan menyerahkan jabatannya ke orang muda.

Kebiasaan hidup dengan fixed income plus dimanja perusahaan dengan berbagai fasilitas justru membuat mereka sulit menyesuaikan diri ketika memasuki dunia tanpa gaji. Meskipun mereka sadar bahwa rejeki adalah kekuasaan Tuhan, faktanya mereka sebagian sulit mensiasati agar rejeki di masa pensiun bisa membuat nyaman buat keluarga. Dinamika penghasilan yang tidak menentu menjadi hantu yang sangat menakutkan.

Padahal sejatinya siapapun kita rejekinya juga berfluktuasi, meskipun memiliki penghasilan tetap. Itu sebabnya, dalam kegiatan inhouse training persiapan pensiun, saya menyampaikan 3 mental utama yang harus dimiliki calon pensiuan yang ingin ber wirausaha.

Pertama, mental uang produktif. Bagi para karyawan yang siap pensiun 5-10 tahun lagi, cobalah memikirkan agar sebagian penghasilan bisa dikeluarkan untuk menciptakan penghasilan baru. Cobalah kurangi pengeluaran konsumtif, dan produktifkan uang anda. Anda bisa mulai bikin rumah kontrakan, beli lahan pertanian produktif, beli ternak untuk bagi hasil dengan petani, beli bisnis franchise dan sebagainya.

Kedua, mental pemberdaya. Latihlah mental anda untuk mampu memberdayakan orang lain. Barang siapa mampu memberdayakan orang lain maka akan mudah mendirikan usaha dan mengembangkannya. Kita sering melihat, masalah utama bisnis bukanlah pada persaingan, melainkan pada sulitnya mengendalikan karyawan. Oleh karena itu, berlatihlah menjadi pemimpin yang baik.

Ketiga, mental tangan di atas. Aplikasinya adalah perbanyak sedekah. Memperbanyak sedekah dengan sikap yang ikhlas tidak akan membuat anda jatuh miskin. Bisnis bukanlah hitungan matematika semata. Karena pebisnis bergantung rejekinya kepada Tuhan, maka lakukanlah banyak hal yang membuat Tuhan tersenyum. Selain itu di setiap pribadi yang mudah memberi, akan tercipta mental yang lebih kuat tatkala menghadapi masalah penghasilan.

Dan, untuk memperkuat tiga mental di atas, sebaiknya para calon pensiun mulai perbanyak pergaulan dengan banyak pelaku bisnis. IES (Indonesian Entrepreneur Society) telah berulang kali mendidik para calon pensiunan melalui seminar dan inhouse training untuk menjadi entrepreneur di masa pensiun. 

Saya meyakini, jika dana pensiun dari berbagai perusahaan yang dalam setahun jumlahnya trilunan rupiah itu dikelola secara produktif oleh para pensiunan, kelak para pensiunan menjadi bagian dari manusia produktif yang ikut memajukan ekonomi masyarakat.


Buat anda yang mau pensiun. Persiapkanlah sejak dini. Selamat menikmati pensiun yang produktif.****

Bambang Suharno


No comments:

Post a Comment