POSTING TERPOPULER

Iklan

28 September 2019

KIAT BISNIS ; Check up, Fitness dan Donor Darah


Orang-orang yang menyadari pentingnya kesehatan, sangat paham akan pentingnya tiga kegiatan ini; Check up, fitness dan donor darah. Mereka secara periodik melakukan check up untuk mengetahui kondisi fisiknya. Untuk menjaga kesehatan mereka melakukan fitness secara rutin. Dan agar lebih sehat lagi dengan sel-sel darah baru, mereka  melakukan donor darah secara periodik.

Tubuh perusahaan hakekatnya sama dengan tubuh manusia. Perusahaan perlu melakukan check up secara rutin, menjalankan fitness agar bugar dan melakukan donor darah agar lebih terbentuk ”sel-sel darah baru” yang lebih segar.

Erie Sasmito, seorang pengusaha eksportir furniture yang juga penulis buku bisnis mengatakan, perusahaan harus melakukan check up setidaknya setahun sekali. Biasanya dalam agenda rutin yang namanya annual meeting. Di sinilah dilakukan evaluasi penyakit-penyakit yang rawan misalkan aliran kas, lemahnya sumber daya manusia, merosotnya order, evaluasi harga produk dan lain-lain. Dengan melakukan check up, akan dapat dilihat kondisi tubuh perusahaan, sehingga masalah-masalah bisa diatasi sedini mungkin. Itu sebabnya dalam perusahaan ada laporan laba rugi, neraca dan cashflow. Tiga jenis laporan keuangan ini merupakan alat ampuh untuk melihat kesehatan dan kekuatan perusahaan.

Fitness perusahaan adalah upaya manajemen dalam memperkuat basis bisnisnya agar dapat tumbuh dan berkembang secara lebih kuat dan kokoh layaknya atlet binaragawan. Seperti halnya fitness tubuh manusia, dalam kegiatan fitness perusahaan diperlukan semacam latihan beban agar pengelola perusahaan dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih menantang. Jika perusahaan tidak berminat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang lebih berat, maka otot-otot perusahaan lemah dan loyo. Perusahaan-perusahaan yang sehat dan kuat adalah yang selalu tertantang untuk membuat pengembangan-pengembangan baru, melakukan investasi baru, menjual saham atau pinjam ke bank untuk pengembangan bisnis dan bermacam kegiatan menantang lainnya. Dengan cara demikian perusahaan lebih sehat dan kuat dalam bersaing.

Sebaliknya, perusahaan yang merasa ”begini saja sudah cukup”, biasanya kurang siap menghadapi perubahan lingkungan luar. Tak usah heran, beberapa waktu kemudian mereka mengeluh terhadap makin sulitnya bersaing dengan pendatang baru yang lebih segar dan pintar. Padahal hukum alam dalam bisnis adalah persaingan makin ketat. Jika terjadi persaingan makin kendor kemungkinan pasar sedang merosot. Umpamanya bisnis alat komunikasi bernama pager, pasti sekarang tidak ada pesaingnya, alias pasarnya memang sudah punah, tergantikan telepon seluler yang harganya tidak semahal tahun 1990an.

Otot-otot perusahaan adalah karyawan yang menopang kerangka tubuh perusahaan. Pastikan otot-otot perusahaan tersebut menerima latihan beban yang cukup agar mereka bisa tumbuh bersama perusahaan. Jangan biarkan otot perusahaan menjadi lemah, sehingga perusahaan jatuh sakit atau bahkan ambruk.

Sebagaimana halnya fitness pada tubuh manusia, fitness perusahaan juga harus dilakukan secara bertahap, sehingga akan terbentuk bangunan tubuh perusahaan yang bagus dan proporsional.  Bisa kita bayangkan, jika semula perusahaan mengelola modal Rp 500 juta kemudian tiba-tiba ditantang mengelola modal ratusan miliar, kemungkinan besar terjadi kerumitan yang berujung pada kesulitan menghasilkan laba.

Ketika latihan beban perusahaan dilakukan langsung dengan beban yang terlampau berat, karyawan tidak akan termotivasi, stres dan sebagaimana dalam tubuh manusia, tubuh perusahaan akan terkena kecelakaan, kemudian tidak dapat melanjutkan aktivitas. Untuk kasus seperti ini dibutuhkan waktu yang cukup untuk melakukan penyembuhan.

Apabila latihan beban dilakukan bertahap maka otot perusahaan akan benar-benar kuat, tidak rapuh.

Nah, bagaimana dengan donor darah? Dalam dunia kesehatan, donor darah yang dilakukan secara rutin dan teratur akan membuat tubuh makin sehat, karena setelah darah ditransfusikan keluar, maka tubuh akan terangsang untuk memproduksi sel-sel darah baru yang lebih segar. Orang yang akan melakukan donor darah, biasanya diperiksa terlebih dahulu apakah sehat atau tidak.

Demikian halnya dengan perusahaan, idealnya secara periodik melakukan aktivitas sosial kemasyarakat dan keagamaan. Dengan menyumbangkan sebagian pendapatan maka akan merangsang pertumbuhan pendapatan perusahaan. Belum ada laporan bahwa perusahaan bangkrut gara-gara melakukan kegiatan sumbangan sosial. Bertindak memberi sumbangan sejatinya adalah kebutuhan dasar manusia. Hakekatnya manusia normal akan berbangga dapat memberi, bukan bangga karena meminta atau mengemis. Saya menyebutkan sebagai mental tangan di atas.

Jika tubuh manusia dan tubuh perusahaan membutuhkan Check up, fitness dan donor darah, menurut saya, organisasi semacam lembaga negara/pemerintah, dan bahkan organisasi terkecil bernama keluarga pun perlu melakukan hal yang sama. Pemerintahan modern menyusun APBN dan mengevaluasinya bersama parlemen. Mereka juga memantapkan sebuah cita-cita negara atau visi negara untuk diraih dalam 25 tahun ke depan, sebagai bagian dari Fitness negara. Negara modern juga akan menjadi terhormat dan tidak dikucilkan apabila sering menjadi negara donor bagi negara lain yang membutuhkannya.

Dalam organisasi bernama keluarga, kita juga perlu check up dengan melihat kondisi keuangan, merencanakan membeli rumah dan kendaraan, asuransi pendidikan sebagai bagian dari fitness. Dan tentu saja, menyumbangkan penghasilan kepada yang memerlukan agar kualitas dan kuantitas rejeki kita semakin baik.  Secara tidak sadar anda tentu sudah melakukan hal tersebut. Check up, fitness dan donor darah.***


Bambang Suharno

SHARE THIS

0 komentar: