Friday, June 12, 2015

TRILOGI MENTAL WIRAUSAHA (Bambang Suharno)

Pada berbagai forum diskusi dan seminar wirausaha, kerapkali beberapa pakar menyatakan banyak kiat dan ciri wirausaha sukses. Seorang pembicara mengatakan perlunya inovasi, karena inovasi adalah nyawa dari wirausaha. Pembicara lain menyatakan seorang wirausahawan sukses harus punya mental pantang menyerah. Ada juga yang menyarakan perlunya disiplin, kerja keras dan hemat. Di sisi lain, ada pengusaha yang menyatakan, wirausaha itu harus gila, tidak bepikir datar, harus melakukan tindakan yang berbeda dari orang lain pada umumnya.

Saya telah melakukan kajian dan mengamati banyak hal soal wirausaha. Saya juga baca buku-buku dan artikel wirausaha di berbagai media. Saya juga baca soal kiat manajemen dan karir. Dari sana saya simpulkan, banyak orang yang membahas kiat wirausaha sebenarnya adalah kiat sukses yang sangat umum, baik wirausaha maupun bukan. Misalnya soal inovasi, itu bukan hanya sukses dalam berwirausaha tapi juga dalam berkarir sebagai karyawan biasa, bahkan sebagai office boy pun perlu inovasi dalam bekerja. Disiplin dan kerja keras? Ini juga cara sukses untuk semua orang, bukan hanya wirausaha. Berpikir gila alias beda atau out of the box? Juga sama, anda mau jadi manajer maupun pengusaha, sama saja, perlu berpikir beda.

Trilogi Mental Wirausaha



Akhirnya saya menyimpulkan bahwa wirausaha itu soal mental. Dan mental wirausaha itu secara ringkas dapat kita bagi menjadi 3 hal saja.

1. Mental Produktif. Jika anda karyawan dengan gaji 1 juta, pasti akan bilang ini gaji kecil sekali, buat hidup sebulan tidak cukup. Kalau 2 juta mungkin lumayan. Setelah mendapat gaji 2 juta ternyata tidak cukup juga. Karena setelah gaji 2 juta pasti butuh sepeda motor. Mulailah membeli sepeda motor dengan cara kredit. Selanjutnya uang gaji 2 juta menjadi sangat kurang. Ia bekerja keras lagi agar gaji naik menjadi 3 juta. Setelah 3 juta hutangnya bertambah banyak karena harus kredit rumah. Demikian seterusnya hingga ternyata semakin tinggi gajinya, hutangnya semakin besar. Survey Citibank beberapa tahun lalu menyatakan bahwa eksekutif yang gajinya 20 juta lebih, ternyata terancnam miskin jika diPKH karena 60% gajinya untuk membayar cicilan hutang. Inilah gambaran mental yang konsumtif. Wirausahawan haruslah produktif, yaitu jika ada penghasilan, maka sebagian penghasilannya akan digunakan untuk menciptakan penghasilan baru. Kalau anda baca buku Rahasia Bisnis Orang China, anda akan menemukan satu rahasia ini, yaitu menyisihkan penghasilan untuk menciptakan penghasilan baru, atau yang saya sebut mental produktif.
Saya coba mengamati, mengapa banyak pelaku UKM yang usahanya cukup laris tapi nggak berkembang. Ternyata salah satu sebabnya adalah tidak memiliki mental produktif. Mereka selalu menghabiskan uang, berapapun yang mereka peroleh. Hari ini mendapat untug 50 ribu, maka habis pula uang 50ribu. Besok mendapat 100 ribu, habis juga uang 100 ribu. Demikianlah maka usahanya tidak diperbesar. Mereka seperti menanam pohon tapi tidak pernah dipupuk dan disiram air, sehingga pohonnya tidak tumbuh normal. Bahkan sebagian gampang mati jika ada "tanaman lain" (baca:usaha lain) yang buka belakangan tapi lebih besar dan modern.

Maka jika anda mau berwirausaha dengan baik, peganglah mental wirausaha ini. Jika anda karyawan, anda bisa terapkan mental ini dengan selalu menyisihkan gaji untuk ditabung dan kelak bisa membeli tanah, sawah, kebun, ruko, buka toko atau beli emas batangan. Itu semua adalah cara memproduktifkan uang yang bisa dilakukan oleh siapapun, baik pengusaha maupun karyawan. Saya sering mendengar orang bicara, gaji nggak cukup,bagaimana mau menyisihkan uang?
Memang benar, berapapun gaji anda, kemungkinan tidak cukup, karena semakin tinggi gaji, semakin besar nasfu boros. Cobalah sisihkan gaji anda dan hiduplah dengan orang lain yang level penghasilannya lebih rendah.

(Bersambung )



No comments:

Post a Comment