Iklan

Saturday, September 1, 2018

MENGATASI KONFLIK SECARA POSITIF DENGAN 3C (Ubaydilah Anwar)

Ubaydilah Anwar dalam sebuah in house training
Pembicara-seminar.com. Tak ada hubungan yang tak pernah konflik. Jangankan hubungan sama orang lain, hubungan kita dengan diri kita saja diwarnai konflik. Kita menginginkan sesuatu tapi kenyataannya beda. Lalu terjadilah konflik. Kita berkonflik dengan diri kita dan juga berkonflik dengan orang lain. Karena konflik ini seringkali tidak bisa dihindari,  makanya teori komunikasi menyebut konflik itu sebagai konsekuensi dari hubungan. Konflik akan terus terjadi meskipun kita tidak menginginkannya.

Coba Anda tanya pada pasangan suami-istri yang telah berpuluh-puluh tahun mengarungi bahtera rumah tangga. Pasti mereka pernah berkonflik. Kenapa mereka kemudian berhasil membangun rumah tangga yang begitu harmonis sampai tua? Seorang pemenang Keluarga Sakinah 2007 mengatakan bahwa yang penting di sini adalah bagaimana cara mengatasinya. Kalau yang satu lagi panas, yang satunya mendinginkan. Di samping itu, mereka berdua bisa memaafkan kesalahan-kesalahan kecil yang manusiawi. Yang tak kalah pentingnya lagi adalah bagaimana semua masalah itu dikomunikasikan.

Jadi, harmonis dan tidak harmonisnya suatu hubungan itu pada dasarnya tidak ditentukan apakah itu konflik itu ada atau tidak. Konflik pasti ada. Yang paling menentukan adalah keinginan dan kemampuan dalam menemukan cara-cara untuk mengatasi konflik secara positif.

Dengan kata lain, yang bisa mengelola konflik itu supaya tetap bisa memberikan perspektif yang konstruktif dan produktif adalah kita sendiri. Karena itu, kompetensi yang diperlukan di sini adalah manajemen-diri (self-manajemen). Unsur terpenting dalam manajemen-diri di sini adalah mengontrol emosi.  Kontrol emosi artinya kita, secara mental, bertindak selaku penguasa, pemilik, atau pengendali emosi itu. Salah satu cara yang bisa kita lakukan untuk bisa mengontrolnya adalah menerapkan formula 3C (Catch, Change, and Create).

Catch artinya kita benar-benar tahu dan sadar bahwa emosi kita memang lagi bermasalah atau meledak. Atas kesadaran dan pengetahuan ini kita berusaha untuk mengendalikannya.
Change di sini adalah berusaha untuk mengganti dengan yang lebih positif bagi diri kita supaya ledakan emosi itu tidak sampai menimbulkan konflik dengan stadium tinggi.
Sedangkan Create adalah menciptakan perspektif, penyikapan, respon atau tindakan yang tidak memperkeruh suasana.

Dengan cara ini, kita masih punya ruang untuk menemukan spirit untuk memperbaiki diri dari konflik yang terjadi. Kita masih punya ruang untuk memikirkan cara-cara konflik yang terbuka. Kita masih punya ruang untuk menjaga hubungan kemanusiaan. Kita masih punya ruang untuk tetap fokus pada apa yang penting buat kita. Kita masih punya ruang untuk memikirkan cara-cara kreatif dalam mengatasi konflik.

Apa ada orang yang masih mengingat formula 3C itu ketika konflik terjadi? Biasanya ketika konflik terjadi, otak menjadi tertekan (stress) dan daya ingat menurun. Kalau pun ada yang ingat 3C, mungkin jumlahnya sangat sedikit. Nah, satu-satunya jurus penyelamat bagi yang belum biasa mengatasi konflik dengan 3C adalah, menahan diri supaya tidak mengeluarkan reaksi yang berlebihan secara langsung. Keluarkan reaksi yang proporsional dan setelah itu temukan ruang batin untuk mengerem, alias jangan berlanjut sampai ke tingkat yang di luar kontrol.

Semoga bermanfaat.

Diadaptasi dari buku INTERPERSONAL SKILL karya Ubaydilah Anwar

SHARE THIS

0 komentar: