Thursday, May 21, 2020

DILEMA DI TENGAH WABAH CORONA: APA SOLUSINYA?

Ubaydillah Anwar, CSC, CPT. | Heart Intelligence Specialist 

Ketika usaha manusia dan prediksi pengetahuan tak sanggup menembus tirai rahasia corona,  kini mulai banyak penduduk dunia menghadapi dilema. Mau di rumah terus, sampai kapan? Belum lagi urusan pekerjaan, pendapatan, bosan, usaha, dan lain-lain dan seterusnya? Terlebih ada fakta yang mengejutkan bahwa ternyata di rumah pun tak serta merta akan selamat dari corona. How it can?

Atas fakta itu kemudian banyak yang memilih hidup berdamai bersama corona dengan “new normal”.  Tapi pilihan inipun bukan tanpa resiko. Selain telah menyinggung tenaga medis dan warga yang taat aturan untuk stay at home, bagaimana kalau sampai terjadi penyebaran corona yang semakin menggila?

Artinya, kita semua dihadapkan kepada pilihan yang maju kena mundur juga kena. Lantas, apa solusi mandiri yang dapat kita lakukan di tengah usaha Negara dan tenaga medis berjibaku menghentikan langkah corona?

Secara manajemen jiwa, kita bisa menerapkan solusi Formula 4M di bawah ini.

FORMULA 4 M

Berikut penjelasan singkat yang bisa kita jadikan panduan dalam praktik, baik untuk kerja di rumah atau di luar rumah.

M1: Menerima

Kita perlu mengaktifkan kesadaran hati untuk menerima kenyataan ini dengan ridho, mengembangkan prasangka baik kepada Allah, dan tetap hidupkan cinta (mahabbah). Tanpa ketiganya, iman kita akan kandas untuk menggapai cahaya-Nya.

Secara kecerdasan dan kesehatan, menerima seperti di atas juga sangat mendukung. Riset HeartMath Institute (2005) menyimpulkan bahwa appreciation (menerima dengan apresiasi) dan compassion (cinta) adalah cara untuk mengharmoniskan system dalam jiwa dan raga kita (coherence state). Begitu sudah harmonis, maka akan muncul enerji positif, emosi positif, dan kesiapan jiwa-raga untuk berperforma secara optimal. Allah SWT berfirman: “Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur,” (QS. Ali Imran: 145).

Ini pasti akan beda ketika hati ini kita gunakan untuk menolak. Sudah pasti jiwa kacau, stress mendekat, hati gelap, dan tak mengubah corona apa-apa. Walhasil, dunia di sana kacau, dunia di sini pun sakit.

M2: Menggerakkan

Saat hati menerima, maka pikiran, tangan, mulut, kaki dan seterusnya tidak boleh diam.  Apalagi rata-rata kita sudah diam di rumah selama tiga bulan. Kita harus menerapkan tawakkal yang optimal. Maksudnya? Nabi SAW mencontohkan burung yang hatinya yakin akan rezeki Allah dan raganya bergerak menemukan rezeki itu.

Mulailah untuk mendaftar jawaban dari pertanyaan: Apa yang bisa saya lakukan dengan keadaan saya sekarang ini untuk menghasilkan sesuatu? Buatlah maksimal 10 lalu pilihlan 3 dan kemudian tentukan prioritasnya. Terakhir, take action!

Gerakkan kreativitas pikiran dengan keyakinan bahwa selama kita ditakdirkan hidup, tidak ada masalah yang bisa membuat kita mati.  Riset oleh Teresa A. (1998) dari Harvard Business Review  menyimpulkan, semua orang bisa kreatif asalkan punya kemauan yang keras, melatih keahlian, dan berani mencoba.   

M3 Memunajatkan

Munajat kita harus agak berbeda karena sikon-nya berbeda. Kali ini, kita perlu bermunajat dengan sense of urgency (benar-benar merasa terdesak) di hadapan Allah, menghadirkan rasa takut ditolak (khouf) dan harapan besar untuk dikabulkan (thoma’). Allah berfirman: “Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya. . .,” (QS. an-Naml: 62). Doa dengan hati yang tidak serius sangat sulit dikabulkan. Rasulullah SAW mengingatkan: “Berdoalah kepada Allah dengan hati yang yakin (dikabulkan). Ketahuilah Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai,” (HR. Ahmad).

M4 Menyeimbangkan

Di saat kita harus berani melangkah, saat itu juga kita perlu mendengar rasa takut. Saat kita harus berpikir positif, kita pun perlu mendengar apa yang dikatakan pikiran negatif. Saat kita harus optimis, kita pun perlu menyimak apa yang dikatakan oleh suara pesimis. Saat kita harus beriman, saat itu juga kita perlu menerapkan pengetahuan.

Semua ini bertujuan agar kita seimbang dan waspada. Dan hanya ketika kita seimbanglah yang bisa membuat kita melangkah dengan aman, seperti sepeda. Sebab, terlalu berani membuat kita menabrak bahaya, terlalu berpikir positif membuat kita tak menginjak realita, terlalu optimis membuat kita abai ancaman, dan iman saja tanpa ilmu membuat iman itu lumpuh di dunia.

Semoga bermanfaat.

SHARE THIS

0 komentar:

POSTING TERPOPULER

Iklan